Biking Bae Orang Basudara: Langkah Ketua DPRD Malteng Menyatukan Morella–Hitumesing

“Baku Sayang sebagai Jalan Pulang: Ikhtiar Hery Men Carl Haurissa untuk Maluku Damai”

————————————–

INFO NEGERI NEWA–Di tanah yang kaya akan kapata dan jejak leluhur, ketika luka sosial belum sepenuhnya reda, sebuah langkah sunyi namun bermakna kembali diayunkan. Ketua DPRD Malteng Hery Men Carl Haurissa hadir bukan sekadar sebagai pejabat, tetapi sebagai anak adat yang terpanggil untuk biking bae orang basudara di Negeri Morella dan Hitumesing 30 April 2026, dengan satu maksud: biking bae orang basudara.

Kunjungannya bukan tentang agenda formal semata. Ia adalah ikhtiar merawat ingatan kolektif—bahwa di Maluku, perbedaan bukan alasan untuk terpisah, melainkan ruang untuk saling memahami. Dalam suasana yang hangat namun penuh perenungan, pesan itu mengalir sederhana, seperti tutur orang tua yang tak pernah kehilangan makna.

Di balai negeri yang menjadi saksi banyak cerita—antara adat, doa, dan air mata—ia duduk bersama tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat. Tak ada jarak, tak ada sekat. Hanya suara hati yang dibungkus bahasa sederhana, namun sarat makna.

“Kace,” begitu ia disapa akrab, Politisi Muda energik Partai Gerindra ini  mengangkat kembali kapata orang tua: bahwa Maluku dibangun bukan dengan amarah, melainkan dengan kasih. Bukan dengan curiga, melainkan dengan baku sayang.

“Orang Maluku ini kuat karena gandong. Katong pung hidup bukan untuk baku lawan, tapi baku jaga. Konflik seng pernah kasi untung, dia cuma tinggalkan luka,” tuturnya lirih, namun menghunjam.

Di Negeri Morella dan Hitumesing, pesan itu jatuh seperti hujan pertama di tanah kering. Warga mendengar, bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan ingatan—tentang masa ketika pela dan gandong lebih kuat dari perbedaan.

Bagi Hery Men Carl Haurissa, “rekonsiliasi bukan sekadar kata dalam rapat resmi. Ia adalah jalan pulang. Jalan untuk kembali duduk satu tikar, makan satu piring, dan tertawa tanpa beban”.

Ia mengajak semua pihak untuk memilih dialog sebagai jembatan. Sebab, menurutnya, kekuatan sejati bukan pada siapa yang menang, tetapi pada siapa yang mau kembali merangkul.

Respon masyarakat pun hangat. Harapan tumbuh perlahan, seperti tunas yang muncul setelah badai reda. Pendekatan adat dan nilai budaya lokal dirasakan lebih menyentuh, lebih diterima, karena ia berbicara dengan bahasa jiwa orang Maluku.

Kini, di bawah langit Morella dan Hitumesing, upaya itu terus dirajut. Tali persaudaraan yang sempat renggang perlahan ditarik kembali—pelan, hati-hati, namun pasti.

Sebab di Maluku, orang basudara bukan sekadar kata. Ia adalah napas. Ia adalah hidup. Dan selama kapata itu masih diingat, harapan akan selalu ada untuk kembali biking bae. Semoga Orang Basudara Baku Bae . (INN-)

 
Avatar photo

Info Negeri News

PT Media Antar Nusa - Terkini, Jujur, dan Derpercaya

Artikel Terkait

Hidayat Samalehu Sentil Bupati Malteng Terkait Jabatan Plt yang Berkepanjangan

Tiga Hari Kabut Asap, Warga Masohi Mengeluh Sesak Napas: Jangan Tunggu Korban Bertambah!

JELANG HUT RI KE-81, MASOHI MASIH DIKOTORI LIMBAH B3 RSUD

Biking Bae Orang Basudara: Langkah Ketua DPRD Malteng Menyatukan Morella–Hitumesing

Open House : Bupati Tunjukkan Kesederhanaan, Sekda Malteng Justru Diduga Tampil Lebih Mewah

Potongan Misterius di RSUD Masohi, THL: Uang Rp150 Ribu Itu Pergi ke Mana?