Di balai negeri yang menjadi saksi banyak cerita—antara adat, doa, dan air mata—ia duduk bersama tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat. Tak ada jarak, tak ada sekat. Hanya suara hati yang dibungkus bahasa sederhana, namun sarat makna.
“Kace,” begitu ia disapa akrab, Politisi Muda energik Partai Gerindra ini mengangkat kembali kapata orang tua: bahwa Maluku dibangun bukan dengan amarah, melainkan dengan kasih. Bukan dengan curiga, melainkan dengan baku sayang.
“Orang Maluku ini kuat karena gandong. Katong pung hidup bukan untuk baku lawan, tapi baku jaga. Konflik seng pernah kasi untung, dia cuma tinggalkan luka,” tuturnya lirih, namun menghunjam.
Di Negeri Morella dan Hitumesing, pesan itu jatuh seperti hujan pertama di tanah kering. Warga mendengar, bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan ingatan—tentang masa ketika pela dan gandong lebih kuat dari perbedaan.
Bagi Hery Men Carl Haurissa, “rekonsiliasi bukan sekadar kata dalam rapat resmi. Ia adalah jalan pulang. Jalan untuk kembali duduk satu tikar, makan satu piring, dan tertawa tanpa beban”.
Ia mengajak semua pihak untuk memilih dialog sebagai jembatan. Sebab, menurutnya, kekuatan sejati bukan pada siapa yang menang, tetapi pada siapa yang mau kembali merangkul.
Respon masyarakat pun hangat. Harapan tumbuh perlahan, seperti tunas yang muncul setelah badai reda. Pendekatan adat dan nilai budaya lokal dirasakan lebih menyentuh, lebih diterima, karena ia berbicara dengan bahasa jiwa orang Maluku.
Kini, di bawah langit Morella dan Hitumesing, upaya itu terus dirajut. Tali persaudaraan yang sempat renggang perlahan ditarik kembali—pelan, hati-hati, namun pasti.
Sebab di Maluku, orang basudara bukan sekadar kata. Ia adalah napas. Ia adalah hidup. Dan selama kapata itu masih diingat, harapan akan selalu ada untuk kembali biking bae. Semoga Orang Basudara Baku Bae . (INN-)